Mengajar bukanlah hanya sekadar transfer ilmu, tetapi harus dibarengi dengan kekuatan interaksi antara guru dan siswa. Selain itu, ketika kita hendak mengajar seharusnya segala peralatan pendukung sudah standby dan sinkron.
Seperti biasa setiap minggu genap tepatnya di hari Kamis, kelas 10 IPA 3 akan di handle oleh saya. Ya, kelas ini akan selalu ditemani oleh Kak Jo, sapaan akrab saya yang dilabeli siswa RB Plus Ruangguru.
Hari ini sedikit berbeda dikarenakan media yang saya gunakan lagi hank, si laptop Acer tak bisa diajak kerjasama. Biasanya saya mengajar itu standby on live, mengajar pakai laptop dan pen tablet. Ketika saya lagi sedang asyik menjelaskan materi, tiba-tiba webcamnya padam, hitam gelap. Kelas belajar pun hilang dari radar. Panik, bingung pun ikutan mewarnai pikiran.
Akhirnya tanpa berpikir panjang, saya putuskan menggunakan white board sebagai pengganti. Perlahan-lahan konsep dan soal sudah tergores di papan putih. Ya, kelas tetap saya handle dan mengalir tanpa ada halangan lagi.
Tak terasa dua jam sudah berjalan, kelas telah usai. Antusiasme mereka sedikitpun tidak berkurang, tetap semangat. Bahkan di akhir sesi belajar, mereka sedikit memberikan candaan. Sedikit percakapan yang cukup menarik.
"Kak, kayaknya kakak lebih enak ngajar pakai white board deh. Lebih mudah dipahami", tukas Luh.
"Kak Jo, minggu depan request ya. Kalo jelasin materinya pelan-pelan aja, jangan kayak kereta api, cepat benar.. hehe", sambung Valeri.
"Wah, mereka diam-diam mengamati gaya mengajar ku. Terimakasih semua", gumamku.
Ternyata memang benar ya, adakalanya kita dapatkan kondisi yang tidak baik. Setiap kondisi itu harus kita terima, dan disadari agar terjadi introspeksi. Setelah kita terima, sadari, dan pada akhirnya akan bermuara kepada suatu perbaikan. Perbaiki kekurangan dan sambut kebaikan dimasa mendatang.
#KamisMenulis

