Cara yang biasa kita lakukan untuk mencegah proses ketengikan atau rusaknya makanan yaitu dengan pendinginan. Misal daging, ikan, atau susu agar lebih awet dimasukkan ke dalam lemari pendingin. Salah satu penyebab kerusakan bahan makanan adalah terkena paparan udara. Kerusakan tersebut dikenal dengan reaksi oksidasi. Beberapa senyawa kimia yang menjadi pemicu timbulnya kerusakan yaitu riboflavin, 𝜷 - karoten, vitamin A, dan asam lemak yang bereaksi dengan peroksida. Oleh karena itu, selain proses pendinginan, diperlukan senyawa yang dapat menghambat laju reaksi oksidasi. Senyawa tersebut dinamakan antioksidan .
Beberapa contoh antioksidan dan bahan makanan yang menggunakannya dengan kadar tertentu sesuai aturan sebagai berikut.
1. Butil Hidroksi Anisol (BHA)
Butil Hidroksi Anisol
(BHA) digunakan dalam bahan makanan margarin, mentega, hasil olahan susu, dan
ikan beku.
2. Butil Hidroksi Toluena (BHT)
Butil Hidroksi Toluena
(BHT) merupakan antioksidan bahan-bahan pangan, seperti margarin, mentega, dan
ikan beku.
2. Butil Hidroksi Tersier
Antioksidan tersebut
digunakan dalam lemak atau minyak pangan olahan.
Asam askorbat digunakan
dalam produk ikan beku, daging olahan, daging awetan, buah kalengan, jeli, saus
apel kalengan, kaldu, makanan bayi kalengan, dan potongan kentang goreng beku.
4. Asam Eritrobat dan Garamnya
Antioksidan tersebut
digunakan dalam olahan daging awetan atau daging olahan, saus apel kalengan,
dan ikan beku.
5. Askorbil Stearat dan Askorbil Palmitat
Antioksidan tersebut
digunakan dalam minyak kelapa, minyak kacang, dan margarin.
6. Propil Galat
Propil galat digunakan
dalam produk minyak mentega, lemak susu, hasil olahan susu, margarin, minyak
kelapa, dan minyak kacang.
7. Alfa-Tokoferol dan Tokoferol Campuran Pekat
Antiokdidan tersebut
digunakan dalam produk lemak, minyak kelapa, minyak kacang, margarine, kaldu,
dan makanan bayi kalengan.
8. Timah (II) Klorida
Antiookdisan tersebut
digunakan dalam pekatan sari nanas dan asparagus dalam botol.
Semoga bermanfaat.
Semoga bermanfaat.
